Rupiah terkoreksi turun setelah penguatan tiga hari beruntun

Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal yaitu terkait isu Brexit dan juga pelemahan yuan

Jakarta (ANTARA) – Nilai tukar (kurs) rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis sore, terkoreksi turun setelah mengalami penguatan dalam tiga hari terakhir secara beruntun.

Kurs rupiah sore ini melemah 13 poin menjadi Rp14.278 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.265 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis, mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal yaitu terkait isu Brexit dan juga pelemahan yuan.

“Anggota parlemen Inggris memilih untuk menolak meninggalkan Uni Eropa tanpa perjanjian penarikan. Sementara, Yuan juga turun setelah rilis data output pabrik di bawah perkiraan,” ujarnya.

Sementara itu, Washington menargetkan untuk memotong ekspor minyak mentah Iran sekitar 20 persen menjadi di bawah satu juta barel per hari yang mengakibatkan harga minyak mentah dunia kembali menguat.

“Ini akan berpengaruh terhadap membengkaknya neraca perdagangan Indonesia karena impor BBM yang dengan sendirinya akan lebih mahal dan membutuhkan dolar AS yang lebih besar,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data perdagangan internasional Indonesia periode Februari 2019 pada Jumat (15/3/2019) pagi.

Prediksi para analis memperkirakan ekspor terkontraksi alias minus 4,26 persen (yoy), impor naik tipis 0,4 persen, dan neraca perdagangan minus 841 juta dolar AS.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada Kamis pagi dibuka menguat Rp14.240 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.240 per dolar AS hingga Rp14.280 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp14.253 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.269 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah menguat seiring respon positif pasar atas ketidakpastian Brexit
Baca juga: Didorong peningkatan bursa global, IHSG ditutup menguat 0,56 persen
 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019