Peneliti sebut deflasi berdampak positif bagi masyarakat

Tingkat deflasi tersebut menunjukkan kondisi perekonomian yang relatif stabil

Jakarta (ANTARA News) – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Assyifa Szami Ilman menyatakan deflasi, yang diprediksikan Bank Indonesia pada Februari 2019 sebesar 0,07 persen, akan berdampak positif karena bisa meningkatkan daya beli masyarakat.
 
“Beberapa harga komoditas menurun. Hal ini diharapkan dapat membantu memperkuat daya beli masyarakat,” katanya di Jakarta, Senin.

Menurut Assyifa, tingkat deflasi tersebut menunjukkan kondisi perekonomian yang relatif stabil.

Dengan demikian, lanjutnya, maka akan membantu pelaku ekonomi seperti menyesuaikan pengeluaran bulanannya.

“Hal ini (deflasi) dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan pola konsumsinya, mengingat harga komoditas seperti beras, jagung, dan lainnya cenderung memiliki tren harga yang meningkat sebelum masuknya masa panen,” jelas Ilman.

Ia menambahkan, deflasi pada Februari 2019 ini juga tidak membahayakan wirausahawan karena angkanya yang relatif kecil dan secara tahunan (year on year/yoy), angka inflasi masih 2,58 persen.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan terjadi deflasi pada Februari 2019 sebesar 0,07 persen secara bulanan (month to month/mtm) karena terutama dipicu penurunan beberapa harga komoditas pangan dan bahan bakar minyak nonsubsidi.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (22/2/2019), mengungkapkan hal tersebut berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) yang dilakukan 46 kantor perwakilan BI hingga pekan ketiga Februari 2019.

“Sebagaimana kita ketahui, bulan Januari inflasi 0,32 persen, bulan ini kita bakalan deflasi 0,07 persen,” ujarnya.

Perry menambahkan, jika perkiraaan bank sentral tepat, maka pada bulan kedua tahun ini, inflasi yoy akan berkisar di 2,58 persen atau mendekati batas bawah sasaran target inflasi 2,5-4,5 persen yoy.

Beberapa komoditas pangan penyumbang deflasi, ujarnya, adalah cabai merah yang deflasi 0,07 persen, bawang merah 0,06 persen, telur ayam ras 0,05 persen, dan cabai rawit 0,02 persen.

Penurunan harga komoditas pangan tersebut ditambah penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti jenis Pertamax pada 10 Februari 2019 dengan variasi penurunan hingga Rp800 per liter.

“Dengan demikian, ini mengonfirmasi bahwa inflasi akhir tahun ini insya Allah kita perkirakan akan lebih rendah dari 3,5 persen,” katanya.

Baca juga: Harga pangan-BBM turun, BI perkirakan Februari deflasi 0,07 persen
 

Pewarta:
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019