Pemkab berharap underpass gunakan ornamen Geblek Renteng

Kulon Progo (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan dinding jalan bawah tanah atau underpass sepanjang 1.302 meter di bawah proyek  New Yogyakarta International Airport (NYIA) menggunakan ornamen motif Geblek Renteng.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Senin, mengatakan, belum mendapat detail informasi terkait pembangunan jalan bawah tanah sepanjang 1.302 meter tersebut termasuk ornamen apa yang akan dimasukkan ke dinding terowongan.

“Saya sangat berharap di situ dapat menampilkan ciri khas Kulon Progo, seperti Geblek Renteng,” kata Hasto.

Ia mengatakan PT Wijaya Kusuma (WIKA) belum memberikan detail informasi terkait pembangunan jalan bawah tanah sepanjang 1.302 meter tersebut termasuk ornamen apa yang akan dimasukkan ke dinding terowongan.

“Kami yakin corak Kulon Progo bisa ditampilkan karena tidak menyalahi teknis bangunan. Ornamen khas Kulon Progo di seluruh bangunan sudah diatur dalam Peraturan Bupati Kulon Progo tentang Bangunan Ciri Khas Kulon Progo,” katanya.

Selain underpass, lanjut Hasto, bangunan di kawasan NYIA juga tengah diperindah untuk menyambut pengoperasian perdana pada April mendatang. Ornamen kedaerahan khas DIY bakal ditampilkan.

“Infrastruktur di airport city juga bisa menghadirkan kearifan lokal DIY secara umum dan Kulon Progo khususnya. Untuk itu, kami bersama Ngarso Dalem (Gubernur DIY Sri Sultan HB X) mengharapkan airport city diwarnai dengan lokal konten, sehingga bentuk airport city itu gunungan, itu kan Yogyakarta banget,” katanya.

Sementara itu, General Manager Bandara Adisucipto PT. Angkasa Pura 1 (persero) Agus Pandu Purnama mengatakan AP I menyiapkan spot khusus di kawasan bandara yang akan menggambarkan kearifan lokal DIY.  Bandara NYIA akan menghadirkan 30 karya seni lokal berupa seni patung, relief, dan miniatur DIY.

“Kami ingin Bandara NYIA menggambarkan ambience Yogyakarta, misal ada Taman Sari, tapi bentuknya nyata dan sama persis,” katanya.

Pewarta:
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019