Pemerintah-pelaku usaha susun desain sistem logistik nasional, pacu ekspor

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama pelaku usaha dari berbagai asosiasi bidang logistik tengah membahas penyusunan Grand Design Sistem Logistik Nasional agar pengiriman barang dapat bersaing di era digital dan memacu kinerja ekspor nasional.

Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan meski sudah mengoptimalkan pembangunan infrastruktur, peringkat Logistik Performance Index Indonesia masih lebih rendah daripada negara-negara berkembang lainnya.

“Hasil upaya termasuk pengembangan infrastruktur baik fisik dan digital. Meskipun begitu, kalau dibandingkan dengan negara ASEAN utama, kita belum lebih baik. Peringkat kita masih lebih rendah dari Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam,” kata Darmin pada konferensi pers di Gedung Ali Wardhana Kemenko Perekonomian Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan nantinya grand design sistem logistik nasional ini tidak hanya mengoptimalkan pembangunan inirastruktur fisik yang terintegrasi, tetapi juga akan mengoptimalkan aspek digital agar mampu bersaing di era Revolusi industri 4.0.

Ia menekankan bahwa  upaya peningkatan efisiensi logistik merupakan bagian dari kebijakan peningkatan ekspor jangka pendek yang sedang dirumuskan pemerintah.

Hal penting yang akan diatur untuk mendorong efisiensi logistik meliputi penerapan sistem Delivery Order Online, sistem InaPortNet, relaksasi prosedur ekspor otomotif dan pembangunan otomotif center.

Menko Darmin meminta agar para pelaku usaha memfokuskan isu-isu strategis di dua sektor utama untuk dibahas, yakni logistik ekspor-impor dan logistik pangan.

“Dua hal ini memiliki aspek-aspek yang rumit, beyond technicalities‘, yang perlu dikembangkan. Kita perlu menyusun rencana aksi yang komprehensif untuk mengeksekusi hal ini,” tegasnya.

Hal ini diamini oleh para pelaku usaha yang hadir. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Hanafi mengapresiasi penyusunan sistem logistik nasional ini. ALFI menargetkan peringkat Logistik Performance Index Indonesia masuk 30 besar dunia dan 3 besar.

“Salah satu upayanya adalah dengan infrastruktur dan digitalisasi. Kami padukan antara 3.0 dan 4.0, termasuk mengidentifikasi permasalahan dari berbagai jenis moda, baik darat, laut dan perkeretaapian,” kata Yukki.

Upaya memperbaiki sistem logistik di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak diterbitkannya Perpres No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, sebagai panduan bagi Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah dalam membangun sistem logistik.

Pengembangan sistem logistik menurut Perpres ini meliputi enam pilar, yakni: Komoditi Utama, Infrastruktur Logistik, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Sumber Daya Manusia, Pelaku Penyedia Jasa Logistik, dan Harmonisasi Regulasi.

Semangat perbaikan kinerja logistik nasional ini kemudian secara konsisten diteruskan di masa Kabinet Kerja dengan membangun berbagai infrastruktur. Selama 2016-2018, sekitar 46 Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total investasi sebesar Rp159 trilliun telah dibangun oleh pemerintah, meliputi jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, pembangkit iistrik dan rel kereta api.

Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah juga meningkatkan kemudahan berusaha dengan mengoperasikan sistem Online Single Submission (OSS). Saat ini OSS mampu melayani 1.000 pendaftar dan menerbitkan lebih dari 850 izin usaha setiap harinya.

Pembangunan infrastruktur ini berimplikasi positif terhadap indeks efisiensi logistik, terlihat dari meningkatnya peringkat Logistics Performance Index (LPI) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Selama dua tahun terakhir, Indonesia naik 17 peringkat, dari posisi 63 pada 2016 menjadi urutan 46 pada 2018.

Namun memang posisi ini masih berada di bawah negara-negara berkembang lainnya, seperti Singapura (7), Thailand (32), Vietnam (39), dan Malaysia (41).

Pertemuan ini menjadi upaya pemerintah untuk menata dan mengembangkan sistem logistik agar dapat berjalan optimal. Menko Darmin berharap pelaku logistik nasional kedepan agar dapat meningkatkan variasi layanan sehingga dapat menghasilkan efisiensi yang optimal.

Baca juga: BPS: Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 capai 5,17 persen, lebih tinggi dari 2017

Baca juga: Analis: Rupiah cenderung menguat, pasar optimis ekonomi tumbuh kisaran lima persen

Baca juga: Analis: Perang dagang reda, IHSG bakal terdorong ke zona positif
 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019