Harga minyak naik tipis karena OPEC cenderung abaikan tekanan Trump

OPEC akan tetap pada perjanjiannya dan mendorong kepatuhan yang lebih besar dari anggota dan sekutu produsennya untuk memperketat pasokan minyak mentah terlepas dari “tweet” Trump baru-baru ini.

New York (ANTARA News) – Minyak berjangka naik tipis pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah diberitakan bahwa OPEC akan melanjutkan pengurangan produksi meskipun ada komentar-komentar dari Presiden AS Donald Trump, yang mengkritik kelompok produsen itu untuk kenaikan harga minyak mentah sehari sebelumnya.

Harga turun lebih dari 3,5 persen pada Senin (25/2), persentase penurunan harian terbesar mereka tahun ini, setelah Trump menginginkan agar OPEC mengurangi upayanya untuk meningkatkan harga minyak.

Sebuah sumber OPEC mengatakan kepada Reuters, Selasa (26/2), OPEC akan tetap pada perjanjiannya dan mendorong kepatuhan yang lebih besar dari anggota dan sekutu produsennya untuk memperketat pasokan minyak mentah terlepas dari “tweet” Trump baru-baru ini.

Sumber OPEC mengatakan kartel, bersama dengan produsen non-anggota, akan melanjutkan perjanjian pemotongan pasokan untuk menyeimbangkan pasar sampai mereka melihat persediaan turun ke rata-rata lima tahun mereka.

“Tidak ada keraguan kami akan melanjutkan pengurangan kami seperti yang direncanakan,” kata sumber OPEC, seperti dikutip Reuters.

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 0,45 dolar AS menjadi ditutup pada 65,21 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik 0,02 dolar AS menjadi menetap pada 55,50 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

“Setelah kemunduran kemarin, pasar berusaha untuk menstabilkan lagi,” kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

“Kami pada dasarnya mengubah fokus kami kembali ke ekspektasi pengurangan produksi produsen dan juga sanksi-sanksi terhadap Venezuela yang terus memperketat pasokan,” kata McGillian.

Harga minyak telah naik sekitar 20 persen sejak awal tahun ini sebagian besar karena kesepakatan oleh OPEC dan produsen non-anggota, termasuk Rusia, untuk mengurangi produksi. Persediaan dari Venezuela telah dibatasi sejak sanksi-sanksi AS dijatuhkan untuk mencoba menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

OPEC+ sepakat pada Desember untuk memotong pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari selama enam bulan. Arab Saudi, produsen utama OPEC, baru-baru ini memperkirakan pasokannya akan turun pada Maret sebesar setengah juta barel lebih per hari daripada yang diantisipasi berdasarkan perjanjian pengurangan pasokan.

Pemerintah Libya yang diakui secara internasional sepakat dengan perusahaan minyak negara untuk membuka kembali ladang minyak terbesar di negara itu, El Sharara, menurut sebuah pernyataan pada Selasa (26/2), sehingga membebani harga.

Para investor juga melihat angka mingguan persediaan minyak mentah AS. Stok minyak mentah AS diperkirakan akan naik 3,6 juta barel dalam laporan persediaan mingguan. Laporan pertama tersebut akan dirilis pada pukul 16.30 waktu setempat (21.30 GMT) dari American Petroleum Institute (API).

Baca juga: Harga minyak jatuh 3,11 persen, Trump: OPEC tolong santai

Pewarta:
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019