Dolar menguat, selera risiko meningkat dan pasar abaikan data AS

Pasar sedang mencari pemulihan yang lebih kuat setelah penutupan

New York (ANTARA News) – Kurs dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mencapai tertinggi 10-minggu terhadap yen, karena selera risiko meningkat di tengah prospek yang lebih optimis pada beberapa ekonomi utama dunia dan prospek kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks dolar AS, ukuran nilai mata uang greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,4 persen pada Jumat (1/3), membukukan persentase kenaikan harian terbesar dalam dua minggu.

“Melihat seluruh ruang G10 (Kelompok 10 mata uang utama), ada lebih banyak tindak lanjut dari optimisme perdagangan AS-China yang sudah dalam proses mendapatkan harga selama Februari,” kata Kepala Strategi FX Eropa BMO Capital Markets, Stephen Gallo, di London, seperti dikutip Reuters.

“Sementara itu, salah satu dorongan terbesar terhadap dolar AS datang dari yen yang lemah,” tambahnya.

Banyaknya data ekonomi AS lebih lemah dari yang diperkirakan pada awalnya membebani dolar, terutama indeks manufaktur, tetapi greenback menguat menjadi diperdagangkan lebih tinggi pada hari itu.

Baca juga: Pertumbuhan ekonomi AS melambat, hanya jadi 2,6 persen

Dalam perdagangan sore, indeks dolar naik 0,4 persen menjadi 96,307. Untuk Februari, indeks dolar naik 0,4 persen.

Dolar juga didukung oleh data pada Kamis (28/2) yang menunjukkan produk domestik bruto AS tumbuh pada tingkat tahunan 2,6 persen di kuartal keempat, melebihi perkiraan untuk kenaikan 2,3 persen.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun telah naik sekitar hampir 10 basis poin minggu ini, kenaikan mingguan tertinggi dalam empat bulan. Imbal hasil naik menjadi 2,759 persen pada Jumat (1/3), tertinggi dalam empat minggu.

Dolar AS naik 0,5 persen terhadap yen pada 111,93 yen setelah mencapai tertinggi 10-minggu, kenaikan harian terbaik sejak 11 Februari.

Sterling juga turun 0,5 persen versus dolar AS pada 1,3193 dolar AS, persentase penurunan terbesar dalam sekitar tiga minggu.

Euro, sementara itu, tergelincir 0,1 persen terhadap greenback pada 1,1356 dolar AS. Data sebelumnya menunjukkan bahwa inflasi yang mendasari di zona euro tetap lemah.

Mata uang tunggal zona euro naik pada awal terhadap dolar AS, setelah diberitakan bahwa indeks manufaktur AS telah jatuh pada Februari ke level terendah sejak November 2016.

Indeks manufaktur ISM (Institute for Supply Management) AS turun menjadi 54,2 di Februari dari 56,6 bulan sebelumnya. Indeks harga-harga yang dibayar, ukuran inflasi, juga turun, ke 49,4, terlemah sejak Februari 2016.

Data ekonomi lainnya juga lemah, dengan indeks sentimen konsumen University of Michigan lebih rendah dari perkiraan untuk Februari serta penurunan dalam pendapatan dan pengeluaran pribadi AS. Laporan-laporan ini menggarisbawahi ekspektasi untuk momentum pertumbuhan yang lebih lemah di kuartal pertama.

“Semua hal ini meredam dolar AS. Pasar sedang mencari pemulihan yang lebih kuat setelah penutupan,” kata Analis Senior FXstreet.com, Joe Trevisani, di New York, merujuk pada penutupan sebagian pemerintah AS selama 35 hari yang berakhir 25 Januari. “Ini bukan kehancuran besar, tapi tidak sekuat yang dipikirkan orang,” tambahnya.

Baca juga: Harga emas jatuh, tertekan dolar dan ekuitas

Baca juga: Harga minyak jatuh dua persen, dibayangi pengurangan pasokan dan sanksi AS

Baca juga: Menkeu: Masyarakat sekarang “kepo” terhadap tugas Kemenkeu

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019